Sabtu, 11 Mei 2013

Arus Listrik Dalam Rangkaian

Kompetensi
Siswa dapat menjelaskan definisi arus listrik. 


  • Siswa dapat menentukan hubungan arus listrik dan tegangan listrik menggunakan hukum ohm.
  • Siswa dapat menghitung arus listrik dalam rangkaian dengan menggunakan hukun kirchoff.
  • Siswa dapat menentukan nilai resistor pengganti pada suatu rangkaian


  • Materi

    Hukum Ohm
    Hukum ohm digunakan untuk menentukan hubungan arus listrik dan tegangan dalam sebuah hambatan.

    Hukum ohm sendiri berbunyi: “Kuat arus yang melalui penghantar sebanding dengan beda potensial pada kedua ujung penghantar”.






    Misalnya pada sebuah rangkaian yang terdiri lampu dan baterai, lampu yang dinyalakan dengan satu buah baterai akan menyala redup, dengan tiga baterai lebih terang, karena arus yang mengalir lebih besar. Jadi semakin besar beda potensial semakin besar pula arus listrik yang dihasilkan
    Nilai perbandingan beda potensial dengan arus listrik yang mengalir merupakan nilai resistansi (hambatan) yang dimiliki oleh penghantar dan nilainya tetap. Secara matematis hukum ohm dapat ditulis :
    V / I = R
       atau 
    V = I . R
    V = beda potensial, satuan volt (V)
    I  = kuat arus listrik, satuan ampere (A)
    R = hambatan listrik, satuan ohm (W)
    Satuan hambatan listrik yang lebih besar dinyatakan dalam kilo ohm (kW) atau mega ohm (MW).
    1 kilo ohm = 103 ohm
    1 mega ohm = 106 ohm
    Contoh cara menghitung kuat arus listrik dengan hukum ohm:

    Sebuah aki yang mempunyai tegangan 12 volt dipakai untuk menyalakan lampu yang mempunyai hambatan 60 W, berapa kuat arus yang mengalir pada lampu ?
    Penyelesaian:Diketahui:   V = 12 volt
                       R  = 60 W

    Ditanyakan: I = ........ ?
    Dijawab:     
    I = V / R = 12 / 60               
                                   
            
    Jadi besar kuat arus listrik yang mengalir pada lampu 0,2 ampere.

    Arus Listrik

    Arus listrik (I) yang mengalir melalui penghantar didefinisikan sebagai banyaknya muatan listrik (Q) yang mengalir setiap satu satuan waktu (t).
    Secara matematis dapat dituliskan:     
    I    = arus listrik (A)
    Q   = muatan listrik (C)
    t    = selang waktu








    Contoh cara menghitung arus listrik:
    1. Pada suatu penghantar mengalir muatan listrik sebanyak 60 coulomb selama 0,5 menit. Hitung besar arus listrik yang mengalir pada penghantar tersebut ? Penyelesaian:Diketahui: Q = 60 C
    2.                  t  = 0,5 menit
                          = 30 sekon
      Ditanyakan: I = ........ ?
      Dijawab:                   

        
      I = 60 / 30
      I = 2 ampere
      Jadi besar kuat arus listrik yang mengalir pada penghantar 2 ampere                               

    Hukum I Kirchoff

    Hukum I Kirchoff digunakan untuk Menghitung Kuat Arus pada Rangkaian tidak Bercabang
    Hukum kirchoff berbunyi:
    Pada rangkaian listrik tak bercabang, kuat arus di setiap titik pada rangkaian sama besar”.
    Pada rangkaian listrik seperti gambar di samping, arus listrik keluar dari kutub positif sumber tegangan lalu mengalir melalui ampermeter A → ampermeter  B → lampu → ampermeter C → ampermeter D → kutub negatif sumber tegangan. Didalam rangkaian tidak terdapat percabangan, sehingga kuat arus yang ditunjukkan oleh ke empat ampermeter sama besar atau I1 = I2 = I3 = I4


    Hukum kirchoff untuk arus listrik bercabang berbunyi:
    “jumlah kuat arus yang masuk pada titik percabangan sama dengan jumlah kuat arus yang keluar dari titik percabangan tersebut”.
    Pernyataan ini dikenal sebagai Hukum I Kirchoff.
    Secara matetatis dapat ditulis :
    Imasuk = Ikeluar
    Secara skematik rangkaian bercabang terlihat sperti di bawah ini:




    Pada rangkaian di samping, arus listrik keluar dari kutub positif sumber tegangan mengalir melalui ampermeter A (I1)→ pada titik cabang X arus terbagi menjadi I2 dan I3. Pada titik cabang Y arus bergabung lagi menjadi I4 → ampermeter D → kutub negatif sumber tegangan.
    Kkuat arus yang ditunjukkan ampermeter A sama dengan yang ditunjukkan ampermeter B ditambah ampermeter C, atau dapat ditulis I1 = I2 + I3 sedangkan penunjukkan ampermeter D sama dengan ampermeter A.

    Contoh menghitung arus listrik bercabang:

    Jika besar kuat arus I = 10 ampere, I1 = I3 = 3 ampere. Hitung besar kuat arus I2 ?
    Penyelesaian:Diketahui:    I = 10 A
                        I1 = I3 = 3 A

    Ditanyakan: I2  = ........ ?
    Dijawab:     
                               I1 = I2 + I3 + I4

                              10  = 3 + I2 + 3

                              10  = 6 + I2     

                               I2 = 4                 
            
    Jadi besar kuat arus listrik yang mengalir pada I2 adalah 4 ampere.

    Rangkaian Resistor
    Rangkaian resistor digunakan untuk mendapatkan suatu nilai dari beberapa resistor. Rangkaian resistor terdiri dari rangkaian seridan rangkaian paralel.
    1. Rangkaian Resistor Seri

    Resistor yang disusun seri selalu menghasilkan resistansi yang lebih besar.
    Pada rangkaian seri, arus yang mengalir pada setiap resistor sama besar.
    R1, R2, dan R3 disusun secara seri, resistansi dari gabungan R1, R2, dan R3 dapat diganti dengan satu resistor pengganti yaitu Rs.
    Resistor yang dirangkai secara seri mempunyai nilai pengganti, yang besarnya dapat   dirumuskan: Jika semua nilai R yang disusun sama, dapat ditulis:        
       Rs = R1+ R2 + R3 + .... + Rn
    dengan n banyaknya R yang disusun.

    Contoh rangkaian resisitor seri:
    1. Hitung nilai resistor pengganti dari ketiga resistor yang dirangkai seperti di bawah ini !
    Penyelesaian:

    Diketahui:    R1 = 2 ohm
                        R2 = 4 ohm
                        R3 = 3 ohm

    Ditanyakan:   Rs  = ........ ?
    Dijawab :     
    Rs = R1+ R2 + R3
    Rs = 2 + 4 + 3
    Rs = 9              
                             
    Jadi nilai resistor pengganti adalah 9 ohm.
    2. Rangkaian Resistor Paralel

    Resistor yang disusun secara paralel selalu menghasilkan resistansi yang lebih kecil. Pada rangkaian paralel arus akan terbagi pada masing-masing resistor pada masing-masing resestor, tetapi tegangan pada ujung-ujung resistor sama besar.
    Pada rangkaian fresestor disamping untuk R1, R2, dan R3 disusun secara paralel, resistansi dari gabungan R1, R2, dan R3 dapat diganti dengan satu resistor pengganti yaitu Rp.
    Resistor yang dirangkai secara paralel mempunyai nilai pengganti, yang besarnya dapat dirumuskan:
    1/ Rp = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3 + .... + 1/Rn
    Jika semua nilai R yang disusun sama besar, maka resistor penggantinya dapat ditulis:
    Rp = R / n
    dengan n banyaknya R yang disusun.
    Contoh menghitung rangkaian resistor paralel:
    Hitung nilai resistor pengganti yang dirangkai seperti di bawah ini !
    a.
    b.
    Penyelesaian:
    a) Diketahui:    
    R1 = 20 ohm
    R2 = 30 ohm
    R3 = 60 ohm
    Ditanyakan:   Rp  = ........ ?
    Dijawab:      
    1/ Rp = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3
    1/ Rp = 1/20 + 1/30 + 1/30
    1/ Rp = 3/60 + 2/60 + 1/60
    1/ Rp = 6/60
                 
        Rp = 10 ohm
    Jadi nilai resistor pengganti adalah 10 ohm.      

    Penyelesaian:b) Diketahui:    
    R1 = 6 ohm
    R2 = 2 ohm
    R3 = 4 ohm
    R6 = 6 ohm
    Ditanyakan:  Rp  = ........ ?
    Dijawab:      
    Seri antara resistor 2 ohm dan 4 ohm
    R s  = 2 + 4
    R s  = 6
    Sehingga rangkaian dapat diganti ini :            
         
    Paralel antara 6 ohm, 6 ohm, dan 6 ohm
                   
                        1/ Rp = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3
                        1/ Rp = 1/6 + 1/6 + 1/6
    1/ Rp = 3/6
    Rp = 2 ohm
    Karena nilai dari masing-masing resistor sama yaitu 6 ohm, maka dapat juga dihitung dengan:
    Rp = R / n
    Rp = 6 / 3
    Rp = 2 ohm
    Jadi nilai resistor pengganti adalah 2 ohm                         
    Simulasi

    Latihan

    Tes

    Besaran dan Satuan

    Kompetensi Dasar
    Setelah mempelajari materi besaran dan satuan maka anda dapat :
    Membedakan besaran pokok dan besaran turunan serta satuan untuk masing-masing besaran tersebut.
    Indikator
    Siswa dapat :
    1. Membedakan besaran pokok dan satuannya
    2. Membedakan besaran turunan dan satuannya
    3. Mengkonversi satuan panjang
    4. Mengkonversi satuan massa
    5. Mengkonversi volume
    Materi
    Besaran Pokok
    Pengukuran adalah proses membandingkan nilai besaran yang diukur dengan besaran sejenis yang dipakai sebagai satuan. Hasil dari pada pengukuran merupakan besaran.
    Besaran adalah sesuatu yang dapat di ukur dan dinyatakan dengan angka atau nilai dan memiliki satuan.
    Dalam fisika terdapat dua besaran yaitu besaran pokok dan besaran turunan.
    Besaran pokok adalah besaran yang satuannya didefinisikan terlebih dahulu dan tidak dapat dijabarkan
    dari besaran lain.



    1. Panjang



    Panjang adalah jarak antara dua titik di dalam ruang. Lebar, tinggi, jari-jari lingkaran termasuk dalam
    besaran panjang. Dalam SI satuan panjang adalah meter.
    Standar panjang internasional yang pertama adalah sebuah batang terbuat dari bahan campuran platina
    iridium, dan di simpan di the international Bureau of Weight and Measures. Tahun 1960 para ahli menetapkan
    bahwa satu meter sama dengan 1.650.763,73 kali panjang gelombang pancaran sinar jingga-merah dari atom
    kripton-86 dalam ruang hampa. Alat ukur panjang adalah mistar, jangka sorong, dan mikrometer sekrup.
    Pada mikrometer sekrup mempunyai tingkat ketelitian 0,01 mm sedangkan jangka sorong mempunyai tingkat
    ketelitian 0,1 mm .

    2. Massa
        
               

      Satuan standar untuk massa adalah kilogram. Massa adalah jumlah materi yang terkandung dalam suatu benda.
    Satu kilogram adalah massa sebuah silinder logam yang terbuat dari campuran platina iridium yang disimpan di
    lembaga Berat dan Ukuran Internasional di Paris, Prancis. Untuk menggukur besaran massa antara lain adalah
    sebagai berikut :
    1. Neraca lengan,
        ada yang terdiri dari dua lengan atau tiga lengan.
    2. Neraca kimia,
        biasa digunakan untuk mengukur massa yang kecil.
    3. Neraca elektronik/digital.

    3. Waktu

                    

    Satuan waktu dalam SI adalah sekon. Pada mulanya satuan waktu didasarkan pada waktu perputaran bumi mengelilingi sumbunya. Untuk mendapatkan pengukuran waktu yang lebih teliti, sekarang orang menggunakan jam atom. Jam ini diatur oleh gerakan atom tertentu (misalnya atom Cesium) dimana 1 detik adalah 9.192.631.770 periode getaran atom cesium-133. Alat ukur waktu yang digunakan untuk mengukur besaran waktu antara lain adalah sebagai berikut :
    1. Jam matahari, jam pasir, jam air.
    2. Arloji
    3. Stopwatch



                                                    
    Besaran Turunan
    Besaran Turunan adalah besaran yang satuannya diturunkan dari besaran pokok. Jika suatu besaran turunan merupakan perkalian besaran pokok , satuan besaran turunan itu juga merupakan perkalian satuan besaran pokok, begitu juga berlaku didalam satuan besaran turunan yang merupakan pembagian besaran pokok.
    Contoh :
       Luas            = Panjang x Lebar
       Satuan luas = satuan besaran panjang x satuan besaran panjang
                           = m x m
                           = m2

    Sistem Satuan Internasional
    Sistem satuan internasional telah disepakati pada tahun 1960 oleh Konferensi Umum Kesebelas mengenai berat dan ukuran, dengan nama Sistem international (SI). Sistem satuan internasional menggunakan satuan dasar meter, kilogram, dan sekon, atau biasa disebut sistem MKS dan satuan yang lain yang biasa dipakai dalam fisika adalah centimeter, gram sekon atau sistem CGS
    Konversi Besaran Pokok
    1. Konversi Satuan Panjang
    Mengubah/konversi satuan panjang adalah mengubah satuan panjang yang satu ke satuan yang lain. Untuk memudahkan dalam mengubah awalan yang satu ke awalan yang lain dapat digunakan tangga konversi satuan.
     
    Cara menggunakan tangga konversi :
    Setiap turun satu anak tangga maka bilangan asal dikalikan 10.
    Setiap naik satu anak tangga maka bilangan asal di bagi 10.
    Contoh :
    1. 10 km = 10 x 10 hm = 100 hm
        (dikalikan 10 dari km ke hm turun satu       anak tangga ).
    2. 10 m = 10 : 1000 km = 0.01 km
       (dibagi 1000 karena dari m ke km naik 3     anak tangga)

    2. Konversi Satuan Massa Konversi massa mengubah nilai besaran dari
    satuan massa yang satu ke satuan massa yang lain.





    Cara menggunakan tangga konversi massa :

    Setiap turun satu anak taangga maka bilangan asal dikalikan 10.
    Setiap naik satu anak tangga maka bilangan asal di bagi 10.
    Contoh :
    1. 5 kg = 5 x 10 hg = 50 hg
        (dikalikan 10 dari kg ke hg turun satu anak      tangga ).
    2. 1000 mg = 1000 : 1000 g = 1g
        (dibagi 1000 karena dari mg ke g naik 3      anak tangga)
       
    Konversi Besaran Turunan

    Volume menyatakan ukuran ruang yang ditempati suatu benda. Besaran volume merupakan besaran turunan yang didapatkan dari besaran panjang. Mengubah satuan volume adalah mengubah satuan volume yang satu ke atuan volume yang lain. Untuk mengubah awalan satuan pada satuan volume anda dapat menggunakan tangga konversi.
    Cara menggunakan tangga konversi volume :
    A.
    Setiap turun satu anak tangga maka bilangan asal dikalikan 1000.
    Setiap naik satu anak tangga maka bilangan asal di bagi 1000.
    Contoh :
    1. 1 m3 = 1 x 1000 dm3 = 1000 dm3
        (dikali 1000 dari m3 ke dm3 turun satu anak tangga).
    2. 1 m3 = 1 x 1.000.000 cm3 = 1.000.000 cm3
        (dikali 106 karena dari m3 ke cm3 turun 2 anak     tangga)
     

    B.

    Setiap turun satu anak tangga maka bilangan asal dikalikan 10.
    Setiap naik satu anak tangga maka bilangan asal di bagi 10.
    Contoh :
    1. 1000 mL = 1000 : 1000 L = 1 L
        (dibagi 1000 dari mL ke L turun tiga anak tangga ).
    2. 100 L = 100 x 100 cL = 10000 cL
        (dikali 100 karena dari L ke cL turun 2 anak tangga)
     

    Simulasi
    Simulasi Konversi Massa
    Simulasi Konversi Volum
    Latihan

    Kamis, 09 Mei 2013

    Energi dan Usaha

    KOMPETENSI:
     Mendiskripsikan bentuk energi dan usaha serta perubahan dan penerapannya dalam peristiwa sehari-hari
     INDIKATOR:
     - Menunjukkan bentuk-bentuk energi dan contohnya dalam kehidupannya sehari-hari
     - Mendefinisikan konsep energi
     - Mengaplikasikan konsep energi dan perubahannya dalam kehidupan sehari-hari
     - Mendefinisikan konsep energi mekanik
     - Membedakan konsep energi kinetik dan energi potensial
     - Menjelaskan adanya energi potensial dan energi kinetik pada suatu benda yang bergerak

     Pengertian Energi
    Jika kamu berlari lama-kelamaan tubuhmu menjadi lelah karena kehabisan energi. Untuk dapat berlari dengan cepat lagi memerlukan stamina yang baik, maka kamu perlu istirahat dan makan. Kemana energi yang kamu miliki tadi sehingga kehabisan energi ?
    Sehabis bekerja kita menjadi lemas karena kehabisan energi, setelah makan tubuh kita menjadi kuat kembali. Mobil-mobilan yang memakai baterai bekas (soak) jalannya lambat atau tidak normal, setelah baterai kita ganti dengan yang baru atau baterai yang soak tadi diisi (di carge) maka jalannya mobil-mobilan kembali normal.

    Tubuh yang lemas setelah makan menjadi kuat dan baterai yang soak jika diisi lagi (di carge) siap dipakai kembali. Dari contoh tadi dapat dikatakan bahwa benda yang memiliki energi dapat melakukan kerja. Dengan kata lain energi adalah kemampuan untuk melakukan kerja (usaha). Satuan energi menurut Satuan Internasional (SI) adalah joule, satuan energi yang lain: erg, kalori, dan kWh. Satuan kWh biasa digunakan untuk menyatakan energi listrik, dan kalori biasanya untuk energi kimia.
    Konversi satuan energi:
    1 kalori = 4,2 joule
    1 joule = 0,24 kalori
    1 joule = 1 watt sekon
    1 kWh = 3.600.000 joule

    Mobil-mobilan yang memakai baterai baru (energi masih penuh) akan melakukan usaha yang lebih besar (jarak tempuh lebih jauh dalam waktu yang sama) daripada mobil-mobilan yang memakai baterai bekas.  

    Bentuk-bentuk Energi
    Beberapa bentuk energi antara lain:
    Pemanfaatan Energi
    Sumber energi yang paling utama di Bumi adalah matahari, tetapi terdapat sumber energi lain yang dapat digunakan untuk kesejahteraan manusia seperti energi angin, energi panas bumi, energi pasang surut, energi listrik, energi biogas, dan energi nuklir.
    Dalam pemanfaatan energi kita bisa mengubah dari satu bentuk energi menjadi bentuk energi yang lain.
    Perubahan bentuk energi antara lain:
    • pada setrika terjadi perubahan energi listrik menjadi energi kalor
    • pada lampu pijar terjadi perubahan energi listrik menjadi energi cahaya
    • pada dinamo terjadi perubahan energi gerak menjadi energi listrik
    Energi Mekanik
    Energi mekanik adalah energi yang dimiliki suatu benda karena sifat geraknya. Energi mekanik terdiri dari energi potensial dan energi kinetik.
    Energi Potensial
    Energi potensial adalah energi yang dimiliki benda karena posisinya (kedudukan) terhadap suatu acuan.
    Sebagai contoh sebuah batu yang kita angkat pada ketinggian tertentu memiliki energi potensial, jika batu kita lepas maka batu akan melakukan kerja yaitu bergerak ke bawah atau jatuh. Jika jatuhnya batu mengenai tanah lembek maka akan terjadi lubang, batu yang kita angkat lebih tinggi maka energi potensial yang dimiliki batu lebih besar pula sebagai akibat lubang yang terjadi lebih dalam. Jika massa batu lebih besar energi yang dimiliki juga lebih besar, batu yang memiliki energi potensial ini karena gaya gravitasi bumi, energi ini disebut energi potensial bumi.
    Energi potensial bumi tergantung pada massa benda, gravitasi bumi dan ketinggian benda. Sehingga dapat dirumuskan
    :
    Selain energi potensial gravitasi terdapat juga energi potensial elastis. Energi ini dimiliki benda yang memiliki sifat elastis, misalnya karet, busur panah dan pegas.
    Contoh Soal:
    Buah durian tergantung pada tangkai pohonnya setinggi 8 meter, jika massa durian 2 kg dan percepatan gravitasi 10 N/kg, berapa energi potensial yang dimiliki durian tersebut ?
    Penyelesaian :
    Diketahui :
        h = 8 meter
        m = 2 kg
        g = 10 N/kg
    Ditanyakan : Ep = ……… ?
    Jawab :
        Ep = m.g.h
        Ep = 2 kg. 10 N/kg. 8 m
        Ep = 160 Nm
        Ep = 160 J

    Jadi energi potensial yang dimiliki oleh buah durian adalah 160 joule
    Energi Kinetik
    Energi kinetik adalah energi yang dimiliki benda karena geraknya. Makin besar kecepatan benda bergerak makin besar energi kinetiknya dan semakin besar massa benda yang bergerak makin besar pula energi kinetik yang dimilikinya. Secara matematis dapat dirumuskan:
    Contoh Soal:
    Sebuah mobil yang massanya 1000 kg bergerak dengan kecepatan 15 m/s. Berapa energi kinetik yang dimiliki mobil tersebut ?
    Penyelesaian :
    Diketahui :
    m = 1000 kg
    v = 15 m/s
    Ditanyakan : Ek = ……… ?
    Jawab :
    Ek = ½ m.v2
    Ek = ½ 1000 kg.(15 m/s)2
    Ek = ½ 1000 kg.225 m2/s2
    Ek = 112500 kg m2/s2
    Jadi energi kinetik yang dimiliki oleh mobil tersebut adalah 112500 joule.
    Hukum Kekekalan Energi
    Hukum Kekekalan Energi Mekanik





    Dari ilustrasi di samping setiap berkurangnya energi potensial akan digantikan oleh energi kinetik bertambah. Dengan demikian jumlah energi potensial dan energi kinetik adalah tetap.
    Pernyataan tersebut dikenal dengan hukum kekekalan energi mekanik
    Sepanjang sejarah manusia tidak dapat membuat alat untuk menciptakan energi, tetapi hanya dapat membuat alat yang bisa mengubah suatu bentuk energi menjadi bentuk energi yang lain. Misal mesin mobil mengubah energi kimia dalam bahan bakar menjadi energi gerak, lampu pijar mengubah energi listrik menjadi energi cahaya. Sehingga berlaku hukum kekekalan energi “Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain

    Usaha




    Contoh Soal:
    Berapa usaha yang dilakukan untuk mendorong mobil dengan gaya 200 N sejauh 5 meter ?
    Penyelesaian :
    Diketahui :
    F = 200 N
    s = 5 m
    Ditanyakan : W = ……… ?
    Jawab : W = F.s
    W = 200 N . 5 m
    W = 1000 Nm
    W = 1000 joule
    Jadi usaha yang dilakukan sebesar 1000 J.
    Usaha adalah hasil kali besar gaya yang searah perpindahan dengan perpindahan. Secara matematis usaha dapat dirumuskan sebagai berikut:
    Selain joule satuan usaha adalah erg
    1 joule = 107 erg
    Daya

    Daya adalah usaha yang dilakukan oleh benda setiap sekon
    Secara matematis, daya dirumuskan:
    Selain watt satuan daya adalah daya kuda atau horse power (HP) atau parkde kraf (PK).
    1 HP = 746 watt
    1 HP = 1 PK
    Simulasi
              
    Latihan
    Tes

     

    Sabtu, 04 Mei 2013

    Bilangan Bulat dan Bilangan Pecahan


    A. Bilangan Bulat
    I. Pengertian
    Bilangan bulat terdiri atas bilangan bulat positif atau bilangan asli, bilangan nol dan bilangan bulat negatif.
    Bilangan bulat digambarkan pada garis bilangan sbb:

    Bilangan bulat terdiri dari
    -Bilangan bulat positif : { 1, 2, 3, 4, .....}
    -Bilangan bulat negatif : {....,-4,-3,-2,-1}
     -Bilangan nol : {0}
    Di dalam bilangan bulat termuat bilangan-bilangan :
    1. Bilangan Cacah (0,1,2,3,4,...) bilangan yang dimulai dari nol
    2.Bilangan Asli (1,2,3,4,...) Bilangan yang dimulai dari 1
    3.Bilangan Genap (2,4,6,8,...) Bilangan yang habis dibagi 2
    4.Bilangan Ganjil (1,3,5,7,...) Bilangan yang tidak habis dibagi 2 (bersisa)

    5.Bilangan Prima (2,3,5,7,11,...) Bilangan asli yang hanya habis dibagi oleh bilangan satu dan bilangannya sendiri
    II. Operasi Hitung pada Bilangan Bulat
    1. Penjumlahandan Pengurangan
    Berlaku :
    1. a + b      =  a + b
    2. a–b       =  a + (-b )
    3. -a + (-b)  =-(a + b)
    4. a–(-b)    = a + b
    contoh:
    1. 4 + 3 = 7
     2. 6-4 = 6 + (-4) = 2
     3. -3 + (-2) =-(3+2) =-5
     4. 9–(-5) = 9 + 5 = 14
    2. Perkalian dan Pembagian
    -Perkalian merupakan penjumlahan secara berulang. contoh: 3 x 5 = 5 + 5 + 5 = 15
    Berlaku: 1.a  x  b      =  ab
     2.a x (–b)  =-ab
     3.(-a) x b    =-ab
    4. (-a) x (-b) = ab
    contoh:
     1.  5 x 6 = 30
    2.  4 x (-7) =-28
     3. (-3) x 4 =-12
    4. (-6) x (-7) = 42

    -Pembagian merupakan kebalikan/invers dari perkalian.
    contoh: 30 : 5 = 30 x 1/5 = 6
    Berlaku:
    1. a  :  b      = a/b
    2. a : (–b)  =-a/b
     3. (-a) :  b    =- a/b
    4. (-a) : (-b) =a/b
    III. Sifat-sifat Operasi Hitung Bilangan Bulat
    1. Sifat Komutatif (pertukaran)
    -Pada penjumlahan a + b = b + a
    contoh: 4 + 8 = 8 + 4
    -Pada perkalian a x b = b x a
    contoh : 4 x 8 = 8 x 4
    2. Sifat Asosiatif (pengelompokan)
    -Pada penjumlahan a + (b + c) = (a + b) + c
    contoh: 4 + ( 5 + 6) = ( 4 + 5 ) + 6 = 15
    -Pada perkalian a x (b x c ) = (a x b)  x  c
    contoh : 4 x (5 x 6) = ( 4 x 5) x 6 = 120